Ajari Aku
Karya Eko Budi Prasetyo
Selepas agustus yang warnanya kian memudar. Ada sekumpulan aksara yang terkurung di balik jeruji rindu yang kian merapuh.
Masih ingat di sudut kertas yang kutuliskan namamu besar besar? Atau di sampul buku yang ku gambar wajahmu diam diam. Lalu, Ku kirim sebagian atas nama doa yang kian bergetar di kaki kaki malam.
Ku panggil kau lantang lantang, namun yang keluar hanya decitan nyeri menjalar hingga ubun ubun dan meradang ke ulu hati.
Perihal menunggu dan ditunggu.
Pernah ku bahas bersama handai tolan perihal penantian cinta berpuluh puluh purnama seorang akhwat, jauh lebih mengharu dari sekedar roman picisan terkesan dipaksa sendu.
Maafkan aku yang salah memaknai kata menunggu, ketidak sabaran yang kian mencair oleh waktu. Tenggelamkan aku dalam setiap menit yang kau beri agar aku terlena dalam diamku sendiri.
Ajari aku sabar.
Untukmu wanitaku
Untukmu wanitaku, boleh lah kita bersua untuk sebentar saja, Berpegang tangan saling menjaga. Sesekali berpeluk mesra agar kita tak lupa, berapa derajat suhu tubuh masing-masing kita.
Untukmu wanitaku, boleh lah kita bermanja untuk beberapa saat, saling menggenggam hati masing-masing dengan erat. Sesekali ditemani cium yang kuat, agar kita tau perpisahan itu sangat berat.
Untukmu wanitaku, boleh lah aku berkunjung kerumahmu nona. membawa serta sanak saudara. Aku tak bermaksud memaksa, tetapi maukah kamu menjadi wanitaku selamanya?
Untukmu wanitaku.
0 komentar:
Posting Komentar