DOA
Karya Eko Budi Prasetyo
Kita sedang merayakan kepergian entah bagaimana gaduh masing masing hatinya.
Malam itu ku berdiri tepat depan gerbangmu memanja setiap degup jantung dengan desir cemas yang tersendat ngilu.
Aku mengalah. Mengaku kalah dan menyalah pada rindu dan penyesalan yang kian menyalak.
Demi hujan oktober malam itu yang menempel basah dari ujung rambut sampai kaki, malam itu sungguh mengigil dingin dan sunyi.
Wahai ukh yang ku sebut dalam sujudku.
Kepinganku berjatuh lirih dan perih.
Ketika kau titik kisahmu yang kukira hanya butuh sedikit jeda.
Sedang aku hanya ingin jadi penyembuh disaat luka, penghibur saat duka dalam setiap peran yang kau mainkan dalam cerita.
Ada cincin yang ingin kusematkan dalam jarimu beserta doa yang ku kalungkan dilehermu.
Wahai ukh yang kusebut dalam doa.
Apakah aku sia sia?
0 komentar:
Posting Komentar